![]() |
| Potret keluarga Jenderal Abdul Haris Nasution.(Sumber: id.wikipedia.org) |
Penulis: Aprilia Ayu Pangesti
MAYANTARA- Jenderal Abdul Haris Nasution, atau yang sering disebut A.H. Nasution, merupakan satu-satunya jenderal yang berhasil bertahan hidup dari tragedi kelam G30S PKI yang mengakibatkan kematian sebelas orang. Ia sekaligus merupakan perancang perang gerilya yang dihormati di seluruh dunia.
Malam suram yang mengubah jalan hidupnya terjadi pada 1 Oktober 1965, di rumahnya yang beralamat di Jalan Teuku Umar No. 40, Menteng, Jakarta Pusat. Rumah tersebut didatangi secara paksa oleh pasukan bersenjata yang mengaku diutus oleh presiden. Namun, A.H. Nasution mendeteksi adanya tindakan mencurigakan.
Dalam keadaan panik, A.H. Nasution berhasil melarikan diri dengan melompati pagar belakang rumahnya atas dorongan istrinya, Johana Sunarti Nasution. Johana berperan penting dalam menyelamatkan suaminya dengan mendesak dan membantu A.H. Nasution melompati tembok Kedutaan Irak. Sementara itu, dirinya menghadapi ancaman serangan pasukan Cakrabirawa (G30S PKI) demi keselamatan anak-anak mereka.
Sayangnya, keselamatan A.H. Nasution harus dibayar dengan kehilangan putri kecilnya yang masih berusia lima tahun, Ade Irma Suryani, yang tertembak oleh pasukan G30S PKI. Selain itu, ajudan tercintanya, Kapten Pierre Tendean turut menjadi korban penculikan karena berani mengaku sebagai A.H. Nasution guna melindungi atasannya.
Ketika pasukan Cakrabirawa menyerbu kamar tidur Nasution, putri bungsunya yang berumur lima tahun tertembak dari jarak dekat dalam pelukan ibunya. Ade Irma dilarikan ke RSPAD dan mendapat tindakan medis, tetapi meninggal dunia pada 6 Oktober 1965. A.H. Nasution menyaksikan putrinya tergeletak berlumuran darah dari atas tembok tempatnya melarikan diri. Pengalaman tersebut menjadi salah satu trauma terbesar bagi A.H. Nasution sebagai seorang ayah.
Ajudannya, Lettu Pierre Tendean, rela berkorban untuk melindungi atasannya. Dalam situasi gelap dan kacau, Pierre dengan berani menghadapi pasukan Cakrabirawa dan tanpa ragu mengaku sebagai Jenderal Nasution. Akibat tindakan heroiknya, ia diculik, dibawa ke Lubang Buaya, disiksa, dan akhirnya kehilangan nyawanya.
Pierre sebenarnya dijadwalkan kembali ke Semarang pada hari itu untuk merayakan ulang tahun ibunya. Namun, ia memilih menunda perjalanan dan merencanakan kepulangannya pada 1 Oktober. Sayangnya, ia justru lebih dahulu berpulang.
Pada malam itu, A.H. Nasution memang berhasil selamat secara fisik, tetapi hatinya remuk redam. Hati seorang ayah itu hancur akibat kehilangan putrinya demi keselamatan diri sendiri, ditambah dengan rasa bersalah mendalam atas kepergian ajudannya yang dengan sukarela menyamar sebagai dirinya.
Sebagai seorang jenderal senior, A.H. Nasution menanggung beban emosional yang berat akibat kehilangan enam perwira tinggi TNI Angkatan Darat, termasuk Jenderal Ahmad Yani, yang tewas dalam tragedi serupa. Dalam pidato perpisahan jenazah para Pahlawan Revolusi pada 5 Oktober 1965, meski dengan suara bergetar dan kondisi fisik yang terluka, dengan kaki patah serta menggunakan tongkat, A.H. Nasution mengungkapkan kalimat legendarisnya: “Fitnah lebih jahat dari pembunuhan....”.
A.H. Nasution bukan hanya seorang prajurit di medan perang, tetapi juga seorang pemikir cerdas. Jauh sebelum peristiwa G30S PKI pada 1965, ia telah merancang strategi perang gerilya saat tentara Indonesia menghadapi serangan pasukan Belanda yang jauh lebih modern.
Taktik yang digunakannya sederhana, tetapi sangat efektif yaitu berintegrasi dengan masyarakat, memanfaatkan karakteristik medan hutan, dan melancarkan serangan saat musuh sedang lengah. Bukunya yang berjudul Pokok-Pokok Gerilya menjadi acuan militer yang terkenal dan dipelajari oleh tentara di berbagai belahan dunia, serta menjadi rujukan di akademi militer internasional.
Dari narasi Jenderal Besar Bintang Lima ini, kita mendapatkan pelajaran bahwa keberanian sejati seorang pemimpin tidak hanya berkaitan dengan memegang senjata, melainkan juga dengan bagaimana ia mampu bangkit dari bencana terberat demi terus melayani negerinya. Dengan keteguhan batin, ia mengantarkan putrinya, ajudannya, dan teman-teman seperjuangannya ke tempat peristirahatan terakhir.***
Editor: Yusuf Aminudin
.png)