LPM Mayantara

LPM Mayantara

Tentang Kamu dan Edelweis

Penampakan Bunga Edelweis di Lereng Pegunungan. (Foto : Reka Rahmatika/lpmmayanatara.com)



Penulis : Reka Rahmatika 


Debarannya masih sama seperti pertama kita bertemu, waktu dimana edelweis mendarat di tanganku.

Senyummu, suaramu, wangi parfummu. Melebur hati yang telah lama membatu.


Hari ini bukan janji yang kau tepati,

Aku disini melihat dimana edelweis tumbuh,

Menyaksikan langsung gumpalan awan yang dulu kau bilang indah.


Pagi ini udara dingin, seperti sikapmu kemarin.


Cahaya matahari menyilaukan,

namun tak cukup terang untuk menerangi kembali apa yang pernah kita rasakan.


Aku berdiri di tempat yang pernah menjadi cerita,

menatap jauh ke arah yang pernah kau tunjukkan.

Awan masih menggumpal di sana,

edelweis masih tumbuh dengan tenangnya,

hanya saja kali ini aku menikmatinya sendirian.


Katamu, tempat ini indah.

Dan ternyata benar.

Hanya saja aku baru mengerti,

keindahan tidak selalu datang bersama seseorang yang kita harapkan.


Mungkin memang begini caranya sebuah kenangan tinggal:

bukan dengan suara,

bukan dengan sentuhan,

melainkan dengan tempat-tempat yang tiba-tiba mengingatkan kita

pada seseorang yang sudah tidak lagi berada di sana.


Aku tersenyum kecil.

Bukan karena semuanya baik-baik saja,

tapi karena akhirnya aku sampai di sini.


Di tempat yang dulu hanya menjadi cerita dari bibirmu,

kini aku menyaksikannya dengan mataku sendiri.


Edelweis itu tumbuh.

Awan itu indah.

Udara masih dingin.


Dan aku?

Masih belajar menerima

bahwa tidak semua yang pernah membuat jantung berdebar

ditakdirkan untuk tinggal.



Editor : Wulan Eka Handayani