| Tampilan Pratinjau Konten Lagu "Sesi Potret". Sumber : Tangkapan Layang Youtube @akuenau, @firefly_records, & @MusicaStudios |
Penulis: Muhammad Yunus Rifai
MAYANTARA– Industri musik Indonesia kembali disuguhkan sebuah karya yang sarat akan refleksi emosional lewat kolaborasi terbaru antara eńau dan vokalis Fourtwnty, Ari Lesmana. Single kolaborasi mereka yang bertajuk "Sesi Potret" sukses menyentuh hati para pendengar dan ramai dibicarakan di berbagai platform musik digital.
Berbeda dengan karya musik populer yang umumnya mengangkat tema romansa kasmaran, eńau dan Ari Lesmana justru membawa pendengar ke dalam ruang batin yang sangat jujur mengenai kehilangan, penyesalan, dan rasa duka yang mendalam.
Di Balik Layar: Perdebatan Sengit Ruang Rekaman
Namun, Ari Lesmana memiliki pandangan lain; ia mengusulkan agar reff tersebut ditarik ke nada tinggi yang melengking khas karakternya guna meledakkan emosi puncak, layaknya seseorang yang sedang berteriak histeris meratapi takdir.
Terinspirasi dari Penyesalan dan Kehilangan
Lagu "Sesi Potret" menceritakan kisah seseorang yang selalu menunda-nunda waktu untuk pulang dan menemui orang tercintanya karena alasan sibuk bekerja atau penghasilan yang pas-pasan. Namun, ketika ia akhirnya memiliki kesempatan dan rezeki untuk pulang membawa oleh-oleh, sosok yang dinantikannya justru telah tiada mendahuluinya.
Rumah baru yang dimaksud di dalam liriknya bukanlah rumah tinggal yang megah, melainkan sebuah makam atau kuburan yang kini hanya menyisakan papan nisan bertuliskan nama sosok tersebut.
Mengapa Berjudul "Sesi Potret"?
Judul "Sesi Potret" sendiri diambil dari metafora momen foto bersama keluarga atau orang terdekat. Sesi foto bersama yang dulunya sering diabaikan atau bahkan dibenci, kini terasa sangat berharga namun meninggalkan ruang kosong yang canggung. Ketika susunan barisan foto keluarga tidak lagi lengkap, saat itulah kenyataan pahit tentang kehilangan benar-benar menghantam kesadaran.
Berikut lirik lengkap Lagu “Sesi Potret” :
Tahun lalu berjuta alasanku
Maaf tak bisa pulang penghasilanku pas-pasan
Kali ini sudah lumayan
Berkat doamu di ijabah sang maha kaya
Dan tahun ini kubisa pulang
Oleh-oleh sudah ditangan
Tapi anehnya bukan kau yang menyambutku
Oh ternyata kau yang lebih dulu pulang
Ku bertamu ke rumah barumu
Tak ada kamu
Hanya papan dan namamu
Mana ocehan wewangian khasmu
Jarak ini terlalu jauh
Kalau rindu aku tak mampu
Soal ikhlas ternyata aku masih amatir
Gengsi menyelimutiku
Manusia ini kehilanganmu
Ha-ha-ha-ha
Sesi potret yang selalu ku benci
Aneh rasanya kau tak di sini
Susunan barisannya tak sama lagi
Oh ho ho satu dua tiga
Ini nyata kau telah pergi
Ku bertamu kerumah barumu
Tak ada kamu
Hanya papan dan namamu
Mana ocehan wewangian khasmu
Jarak ini terlalu jauh
Kalau rindu aku tak mampu
Sesal hatiku tak sempat temani kamu
Harusnya kubisikan kata ajaib ke telingamu
Soal ikhlas ternyata aku masih amatir
Masih sangat amatir
Gengsi menyelimutiku
Manusia ini kehilanganmu
Kehilanganmu
Pesan Kuat tentang Menghargai Waktu
Melalui lagu "Sesi Potret", eńau dan Ari Lesmana seolah menampar keras siapa saja yang sering kali terjebak dalam ego dan gengsi, hingga melupakan bahwa waktu bersama orang-orang tercinta sangatlah terbatas. Kolaborasi vokal yang emosional di antara keduanya berhasil menyampaikan pesan bahwa salah satu bentuk amatirisme terbesar manusia adalah ketidakmampuannya dalam mengikhlaskan sebuah kehilangan.***