![]() |
| Suasana pelaksanaan Upacara Adar Labuhan Ageng di Pantai Sembukan, Wonogiri. (Foto: disarpus.wonogirikab.go.id.webp) |
Penulis: Wulan Eka Handayani
MAYANTARA - Hari itu Selasa, 16 Juni 2026. Matahari masih memancarkan cahaya hangat dari ufuk barat Pantai Sembukan yang diapit perbukitan menjulang.
Tetua adat bersama para punggawa Desa Paranggupito, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, berjalan beriringan menuju bibir Pantai Sembukan. Berbagai ubarampe tradisi upacara adat peringatan 1 Suro diusungnya.
Sesampainya di tepi pantai, perwakilan tetua adat melarungkan sesaji berupa kepala, kaki, dan ekor sapi ke laut. Tradisi melarung tersebut merupakan bentuk sedekah laut yang telah dilakukan masyarakat Paranggupito secara turun-temurun sejak masa Mangkunegaran IV sekitar tahun 1848.
Sementara sebagai bentuk sedekah bumi, gunungan hasil bumi juga dibuat dalam rangkaian acara. Sedekah laut dan bumi dilakukan beriringan atas rasa rasa syukur terhadap hasil bumi dan laut.
Sedekah laut dan sedekah bumi dilaksanakan dengan tujuan memohon keselamatan dan ketenteraman bagi masyarakat Desa Paranggupito, khususnya, serta bagi bangsa dan negara Indonesia pada umumnya. Selain itu, tradisi ini juga dimaksudkan agar masyarakat terhindar dari gangguan roh halus.
Sebagai kelompok Abangan, masyarakat Wonogiri masih banyak yang menganut Islam Kejawen. Oleh karena itu, Upacara Adat Labuhan Ageng menjadi salah satu momentum bagi masyarakat penganut Islam Kejawen untuk menjalankan aktivitas spiritual dan religius.
Jejak R.M. Said dalam Tradisi Upacara Adat Labuhan Ageng Pantai Sembukan
Pelaksanaan Upacara Labuhan Ageng erat kaitannya dengan perjuangan Raden Mas Said, khususnya ketika melakukan perang gerilya di wilayah Desa Sawit, Kecamatan Paranggupito, sekitar dua bulan menjelang bulan Besar hingga memasuki bulan Sura tahun 1848.
Pada kurun waktu tersebut, pihak Belanda, Kasultanan Yogyakarta, dan Kasunanan Surakarta mengadakan perjanjian yang dinilai lebih menguntungkan pihak kompeni. R.M. Said merasa dirugikan karena menganggap kompeni telah mencampuri urusan pemerintahan Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Sebagai bentuk perlawanan terhadap kondisi tersebut, R.M. Said melakukan perang gerilya di berbagai wilayah sekitar Surakarta, termasuk wilayah Wonogiri. Di daerah ini, perjuangannya berlanjut hingga Desa Sawit yang berada di pesisir selatan.
| Prosesi melarung kepala, kaki, dan ekor sapi yang dilakukan oleh tetua adat. (Foto: Instagram/desawisata_paranggupito) |
R.M. Said bermukim di Desa Sawit selama beberapa hari. Pada suatu malam, ia menuju pesisir Pantai Selatan untuk bersemedi di sebuah pesanggrahan yang berada di atas bukit, yang kini dikenal dengan nama Gunung Bendera.
Setelah bersemedi selama tiga hari tiga malam, keinginan R.M. Said dikisahkan terkabul, tepat pada pukul 01.30 malam Jumat Pon di bulan Sura tahun 1848. Selanjutnya, R.M. Said kembali ke Surakarta.
Jejak perjuangannya kemudian berlanjut dengan berdirinya Pura Mangkunegaran dan Kadipaten Mangkunegaran. Gelar P.A. Mangkunegaran I kemudian disandang oleh R.M. Said.
Sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilannya melawan penjajah Belanda, R.M. Said melarungkan sesaji ke Laut Selatan. Tradisi tersebut kemudian diyakini menjadi cikal bakal pelaksanaan Upacara Adat Labuhan Ageng yang terus dilestarikan hingga sekarang.
Menilik Nilai Filosofis Tradisi Upacara Adat Labuhan Ageng
Damardjati Supadjar Mutyas Maharani, Drs. Budisutrisna, M.Hum., dan Dr. Heri Santoso dalam artikel ilmiah berjudul "Nilai-Nilai Filsafat Tradisi Labuhan Ageng di Pantai Sembukan dalam Perspektif Filsafat" (2024) menyatakan bahwa setidaknya terdapat lima nilai yang dapat dipetik dari Tradisi Upacara Adat Labuhan Ageng di Pantai Sembukan.
Tradisi Labuhan Ageng mengajarkan hikmah kehidupan yang bijaksana melalui keseimbangan antara kehidupan dunia nyata dan dunia spiritual. Nilai syariat juga tercermin melalui pembacaan doa yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan adat dan agama.
Hal tersebut tampak dalam praktik ritual Islam Kejawen yang menjadi agama dan kepercayaan mayoritas masyarakat setempat.
Selain itu, Tradisi Labuhan Ageng juga menunjukkan nilai tarekat yang bersifat transformatif dari zaman dahulu hingga sekarang. Tarekat penyelenggara secara konsisten menyelenggarakan ritual dengan tetap memegang konsep puncak tertinggi pengetahuan hanya ada pada Tuhan.
Tradisi ini turut membentuk pandangan hidup masyarakat agar senantiasa menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, menjaga kelestarian lingkungan, serta meningkatkan penghambaan kepada Tuhan.
Wawasan pemahaman yang lebih luas mengenai tradisi Labuhan Ageng serta komprehensif dapat disosialisasikan melalui Tradisi Labuhan Ageng ini. Pengetahuan mengenai kehidupan makrokosmos dan mikrokosmos dapat beriringan dengan realitas sosial era modern saat ini.
Di sisi lain, nilai kepedulian terhadap lingkungan serta potensi wisata religi yang terkandung dalam Tradisi Labuhan Ageng dapat menjadi bahan kajian budaya Nusantara mengenai nilai-nilai budaya lokal.
Di tengah keberagaman budaya Indonesia, Wonogiri memiliki khazanah budaya yang khas dari akar rumput dan layak untuk terus dilestarikan serta diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Apalagi, sejak tahun 2020, Tradisi Labuhan Ageng di Pantai Sembukan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda melalui SK Nomor 1044/P/2020 dengan Nomor Registrasi 202001129.
Masyarakat dan wisatawan dapat menyaksikan secara langsung rangkaian Upacara Adat Labuhan Ageng yang berlangsung dari sore hingga malam hari di Pantai Sembukan, tepat di tanggal 1 Suro dalam penanggalan Jawa.***
Editor: Yusuf Aminudin
