![]() |
| Ilustrsi bocah menatap tanah Gaza. (Foto : Gambar ilustrasi dibuat dengan AI, kemudian dimodifikasi dan disempurnakan secara digital oleh penulis/Setya Purwaningrum) |
Penulis: Setya Purwaningrum
Di bawah nabastala yang jingga menyala,
arutala menggantikan surya,
swastamita meratapi senja.
Di atas tanah merah merona,
tempat tumpahnya darah mulia.
Puing-puing dan debu yang membisu,
entah ke mana arah bertuju.
Gemuruh maut tiada henti,
hujan besi tiada usai.
Gaza ialah mandala tanpa tirai,
tempat nestapa dipentaskan tanpa henti,
tanpa dalang, tanpa jeda,
hanya air mata yang menjadi naskahnya.
Dengarlah..
rintihan bocah yang lara,
isak bunda yang berduka,
deru napas diujung do’a
Ya Rabb...
Peluklah jiwa yang tersisa,
hapuskan duka yang meraja,
taburkan nirwana di bhumi nestapa.
Gaza tetap mempertahankan marwahnya,
berdiri tegak di atas derita,
menyambut candra purnama di cakrawala,
dengan harap damai berjumpa.
Editor : Wulan Eka Handayani
