LPM Mayantara

LPM Mayantara

Menjelajahi Sudut Kota Solo, 3 Destinasi Wisata Ini Punya Spot Estetik yang Ramah Kantong


Salah satu ruang pajang di Tumurun Museum. (Foto : Tangkapan layar Instagram @tumurunmuseum)


Penulis: Yusuf Aminudin


MAYANTARA- Bulan Juni telah tiba. Bagi banyak pelajar dan mahasiswa, momen ini identik dengan berakhirnya Ujian Akhir Semester (UAS). Sekaligus dimulainya masa liburan yang dinanti-nantikan. 

Setelah berhari-hari berkutat dengan tugas, presentasi, dan ujian, berlibur menjadi salah satu cara untuk melepas penat. Sekaligus mengisi kembali energi sebelum kembali menjalani aktivitas akademik.

Tren wisata di kalangan anak muda saat ini tidak hanya mencari tempat yang menarik untuk dikunjungi. Tetapi juga lokasi yang estetik, instagramable, dan tetap ramah di kantong. Di tengah banyaknya pilihan destinasi, Kota Solo menjadi salah satu tujuan yang menarik untuk dipertimbangkan. 

Kota yang dijuluki “The Spirit of Java” ini menawarkan perpaduan antara wisata budaya, sejarah, seni, kuliner, hingga spot-spot foto yang memikat. Tak heran jika Solo kerap menjadi tujuan wisata favorit, baik bagi warga lokal maupun wisatawan luar Solo Raya. 

Bagi yang berencana menghabiskan liburan di Kota Solo, berikut tiga rekomendasi tempat wisata yang layak masuk daftar kunjungan.


1. Kampung Batik Kauman

Kampung Batik Kauman menjadi salah satu kawasan yang ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya TikTok. Kawasan ini bahkan dikenal sebagai salah satu destinasi walking tour paling populer di Solo.

Deretan bangunan bernuansa klasik, gang-gang kecil yang tertata rapi. Serta sentuhan budaya Jawa yang masih terasa kuat menjadikan setiap sudut Kauman menarik untuk diabadikan.

Berlokasi di Jalan Trisula III, Kelurahan Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, kawasan ini berada tidak jauh dari Jalan Slamet Riyadi, salah satu jalan utama di Kota Solo. Dengan luas sekitar 0,196 km2, pengunjung dapat menjelajahi kawasan ini dengan berjalan kaki tanpa merasa terlalu lelah.

Kampung Batik Kauman memiliki sejarah panjang sebagai pusat batik sejak era Kerajaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Konon, kawasan ini menjadi tempat para bangsawan keraton memperoleh batik eksklusif yang digunakan dalam berbagai kegiatan kerajaan.

Status Kauman sebagai Kampung Wisata Batik telah ditetapkan sejak tahun 2006. Kini, kawasan tersebut tidak hanya dikenal sebagai pusat batik, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata yang lengkap dengan kehadiran restoran, kafe, toko aksesori, hingga berbagai pernak-pernik kekinian.

Popularitas Kauman semakin meningkat seiring banyaknya konten yang beredar di media sosial. Banyak anak muda datang untuk berburu foto estetik, menikmati suasana kampung heritage, atau sekadar bersantai di kafe-kafe yang tersedia. 

Menariknya lagi, pengunjung tidak perlu membayar tiket masuk untuk menikmati kawasan ini. Karena itu, Kampung Batik Kauman menjadi pilihan menarik bagi siapa saja yang ingin berwisata sekaligus mengabadikan momen tanpa menguras dompet.


2. Tumurun Museum

Bagi pecinta seni, Tumurun Museum dapat menjadi alternatif destinasi untuk mengisi waktu liburan. Museum ini berlokasi di Jalan Kebangkitan Nasional Nomor 2/4, Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Surakarta. Dan buka setiap Selasa hingga Minggu pukul 10.00–16.00 WIB.

Daya tarik utama Tumurun Museum terletak pada koleksi karya seni yang dipamerkan. Museum ini menghadirkan berbagai karya seni modern dan kontemporer dari sejumlah seniman ternama. Salah satu karya yang cukup dikenal adalah karya "Floating Eyes" dari seorang seniman kelahiran Yogyakarta, Wedhar Riyadi.

Sebagai museum koleksi pribadi, Tumurun Museum menerapkan sistem reservasi bagi pengunjung. Pemesanan tiket dapat dilakukan melalui situs resmi tumurunmuseum.org atau dengan melihat informasi yang dibagikan melalui akun Instagram @tumurunmuseum.

Dengan harga tiket masuk sebesar Rp35.000 per orang, pengunjung dapat menikmati pengalaman melihat koleksi seni dalam ruang pamer yang tertata modern dan nyaman. Anak-anak berusia di bawah lima tahun dapat masuk secara gratis dengan pendampingan orang dewasa.

Setiap pengunjung diberikan waktu selama satu jam untuk menikmati koleksi yang dipamerkan. Selain menambah wawasan tentang seni, museum ini juga menawarkan banyak sudut menarik yang cocok untuk menghasilkan foto-foto estetik dengan nuansa galeri berkelas.


3. Pasar Gede Hardjonagoro

Tak lengkap rasanya berkunjung ke Solo tanpa singgah ke Pasar Gede Hardjonagoro. Pasar tradisional yang juga dikenal sebagai Pasar Gede Solo ini berada di Jalan Urip Sumoharjo, Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Tak jauh dari Balai Kota Surakarta.

Dibangun pada tahun 1927, Pasar Gede merupakan pasar tradisional tertua di Kota Solo. Pada awalnya, pasar ini berfungsi sebagai pusat perdagangan hasil bumi dan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Seiring perkembangan zaman, Pasar Gede bertransformasi menjadi salah satu destinasi wisata budaya dan kuliner yang populer.

Beragam kuliner legendaris hingga kekinian dapat ditemukan di kawasan ini. Beberapa di antaranya adalah Es Dawet Telasih Bu Dermi, Ayam Goreng Pak Ali, Soto Bu Harini, Lenjongan Yu Sum, Uma Yum Cha Dimsum, Kedai Titilaras, Cabuk Rambak, hingga Es Potong Djadoel. Seluruh sajian tersebut dapat dinikmati dengan harga yang relatif terjangkau.

Di balik keramaian aktivitas perdagangan dan wisata kuliner, Pasar Gede menyimpan nilai sejarah yang penting. Pasar ini pernah menjadi ruang interaksi dan transaksi antara masyarakat pribumi, Tionghoa, dan Belanda. 

Dari sisi historis, Pasar Gede telah melewati tiga periode penting, yakni masa kerajaan, masa pascakolonial, dan masa kemerdekaan.

Hingga kini, Pasar Gede Hardjonagoro masih menjadi simbol harmoni sosial dan budaya masyarakat Kota Solo. Berbagai upaya pemugaran dan perawatan terus dilakukan untuk menjaga kelestarian bangunan bersejarah ini tanpa menghilangkan karakter arsitektur aslinya.


Nah, tiga destinasi tersebut bisa menjadi pilihan destinasi saat berlibur ke Solo. Ketiganya menawarkan pengalaman wisata yang berbeda. Mulai dari wisata budaya, seni, hingga kuliner. Dengan biaya yang relatif terjangkau, pengunjung dapat menikmati sisi lain Kota Solo yang kaya akan sejarah, budaya, dan kreativitas.***


Editor: Wulan Eka Handayani