LPM Mayantara

LPM Mayantara

Menemukan Ruang Tumbuh dan Pendidikan Inklusif di SLB B YAAT Surakarta

Suasana Guru dan Siswa Berkumpul di Depan Gerbang SLB B YAAT Surakarta. (Foto : Facebook/Muthi'ah Muti)


Penulis: Muhamad Yunus Rifai

MAYANTARA- Pukul sepuluh pagi, riuh tawa pecah di salah satu sudut kelas Sekolah Luar Biasa (SLB) B Yayasan Asuhan Anak Tuna (YAAT) Surakarta. Di tengah ruangan, salah satu siswa tampak sibuk merapikan karung bekas tempat bawang merah yang diubahnya menjadi sebuah karya busana unik. Dengan senyum cerah, ia memamerkannya. 

Tak jauh dari sana, seorang siswa kelas 11 bernama Muhammad Melik Irfansyah tampak asyik dan fokus menyusun gelas plastik bertumpuk. Menciptakan menara kecil di atas mejanya dengan penuh antusias.

Keceriaan hari itu memancarkan kehangatan dari gedung sekolah yang sederhana. Berada tak jauh dari riuk pikuk lampu merah kecamatan Serengan, SLB B YAAT Surakarta tersembunyi di dalam gang kecil kawasan padat penduduk. Tepat di depan gerbangnya, mengalir sebuah selokan atau sungai kecil yang membatasi area jalan. 

Penampakan Gedung SLB B YAAT Surakarta. (Foto : Muhamad Yunus Rifai/lpmmayantara.com)

Di balik kesederhanaan bangunannya yang bersahaja, sekolah ini konsisten menjalankan berbagai program keterampilan vokasi kreatif seperti daur ulang barang bekas. Dan pelatihan kemandirian untuk membekali para siswa dengan keahlian nyata. 

Program tersebut memberikan dampak signifikan. Anak-anak yang tadinya kerap dipandang sebelah mata, kini perlahan menemukan ruang aman untuk mengasah potensi. Menumbuhkan rasa percaya diri dan berani memamerkan karya terbaik mereka tanpa rasa cemas.

SLB B YAAT Surakarta menyimpan sejarah panjang pergerakan inklusi mandiri. Lahir dari dedikasi perorangan, Soekardi melalui Yayasan Asuhan Anak Tuna, sekolah ini awalnya didirikan khusus untuk anak-anak tunarungu. Namun seiring perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat, sekolah ini berkomitmen membuka pintu akses pendidikan yang setara bagi peserta didik dengan berbagai jenis disabilitas. 

Kini, di tengah kondisi struktural yayasan yang belum aktif secara penuh di Surakarta, denyut nadi sekolah praktis ditopang oleh kemandirian para guru dan kepala sekolah. Untuk urusan operasional sehari-hari, pendanaan utama bersandar pada Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah.

​Di balik dinamika pengelolaannya, SLB B YAAT kini telah terbagi menjadi dua entitas terpisah, yakni di Klaten dan Surakarta. Kepala Sekolah SLB B YAAT  Surakarta, Muthi’ah mengungkapkan bahwa SLB B YAAT yang berlokasi di Klaten berencana untuk ditransformasikan menjadi SLB yang lebih maju. 

Harapan besar itu terpatri seiring kabar bahwa unit di Klaten terus berkembang pesat di bawah tata kelola yayasan yang tertata dengan baik. 

“Insya Allah, bismillah,” ungkap Muthi’ah penuh optimisme saat menceritakan cita-cita besar tersebut.

​Sebaliknya, kondisi berbeda harus dihadapi oleh unit yayasan yang berada di Surakarta. Yayasan tersebut sekarang ini belum dapat beroperasi secara optimal lantaran sang ketua yayasan sedang terbaring sakit. 

Alhasil, seluruh denyut nadi dan operasional sekolah kini bersandar sepenuhnya pada kemandirian, dedikasi, serta kepiawaian para guru. Pihak yayasan sebatas memantau dan mengawasi kinerja para pendidik dari jauh. 

Demi memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan setiap harinya, sekolah menggantungkan napasnya pada sokongan BOS. Yang mana alokasinya dipotong dan difokuskan, terutama untuk memenuhi kebutuhan mendasar. Seperti pembelian buku-buku pelajaran siswa.

​Sebuah ironi yang menyayat hati di saat dana yang sangat terbatas itu harus terserap untuk tumpukan lembaran buku pelajaran resmi, dimana tidak sedikit dari anak-anak tunagrahita perlu berjuang ekstra untuk mengeja satu kata demi satu kata. Bagi mereka yang belum mampu membaca tulisan, deretan huruf di kertas tebal itu tak lebih dari bayangan tak tersentuh. 

Padahal yang paling dibutuhkan sejatinya adalah alat peraga edukatif, sentuhan ruang tumbuh yang ramah. Serta media belajar visual yang mampu menjangkau sunyinya dunia mereka.


Dedikasi Guru, Mengajar SLB merupakan Kerja Ikhlas

Bagi para pengajar, mendedikasikan waktu di sekolah ini adalah ujian keikhlasan. Ika Agustina tenaga pendidik honorer berlatar belakang Bimbingan Konseling, mengingat kembali momen pertama kali ia menginjakkan kaki di sekolah tersebut.  

Di awal kedatangannya, terbesit rasa takut dan cemas yang cukup besar dalam dirinya. Kala itu, benak Ika terbayang oleh stereotip awam bahwa anak-anak berkebutuhan khusus rentan menunjukkan perilaku agresif, tiba-tiba memukul, tantrum, atau sulit diarahkan.

​Namun, seiring berjalannya waktu, kekhawatiran itu perlahan luluh dan sirna oleh ketulusan yang ia temui setiap hari. Di balik prasangka awal itu, ia justru menemukan jiwa-jiwa polos yang menebar kasih sayang dan pengertian. 

Panggilan hati akhirnya membawanya bertahan mendampingi keberagaman siswa. Dai rutinitas sholat Dhuha, menari, melukis, memasak, hingga keterampilan tangan.

Ika berharap agar masyarakat luas tak langsung mendukung judging terhadap anak difabel tanpa melihat kemampuan mereka. 

“Kenyataannya jauh berbeda dari stereotip yang beredar, tidak ada anak yang terlahir sia-sia karena setiap dari mereka menyimpan kelebihan dan potensi masing-masing," tekan Ika. 

Siswa SLB, Afifah Asri Nur Akmala (kiri) berinteraksi dengan Guru Ika Agustina (kanan) dengan Bahasa Isyarat. (Foto : Muhamad Yunus Rifai/lpmmayantara.com)

Di ruang kelas, ia menerapkan metode pembelajaran berdiferensiasi yang fleksibel. Jika materi dirasa terlalu rumit, ia menurunkan tensi dan memperbanyak pengulangan. Tujuannya untuk memastikan setiap murid paham tanpa merasa tertekan.

Tantangan sekolah kian berat lantaran keterbatasan jumlah guru ahli yang sangat sedikit. Kebijakan pemerintah yang memutasi guru-guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) ke sekolah negeri membuat SLB B YAAT Surakarta mengalami krisis tenaga pendidik. 

Akibatnya, pengoperasian sekolah harus mengandalkan kemampuan mandiri para guru honorer yang ada. Di mana satu orang guru sering kali harus merangkap berbagai peran dan mendampingi siswa dengan jenis disabilitas yang berbeda-beda.


Sumbangsih Relawan dan Akademisi

Di tengah krisis tenaga pendidik tersebut, kedatangan para relawan dan mahasiswa ibarat suntikan energi baru. Kehadiran mereka secara tidak langsung membantu mengisi kekosongan serta menutupi keterbatasan jumlah guru di ruang kelas. 

Muthi’ah selalu menyambut hangat kehadiran anak-anak muda dari perguruan tinggi ini.

"Kehadiran para mahasiswa ini sangat berarti. Mereka bisa mengenal langsung bagaimana kondisi murid-murid di sini, bagaimana penanganannya, dan apa saja kendala nyata dari SLB dalam mendampingi mereka," tutur Muthi’ah. 

Menurutnya, gagasan segar dari para mahasiswa sangat membantu proses belajar mengajar. Mulai dari mendampingi di kelas, mengawal kegiatan pramuka, hingga mendirikan tenda saat ada agenda luar ruang. 

Kendati ia tak menampik, ada riak kendala ketika durasi kunjungan terikat semester. Atau masa tugas yang relatif singkat.

Tidak hanya bagi pihak sekolah, dinamika interaksi di SLB B YAAT Surakarta juga memberikan pelajaran berharga bagi kelompok mahasiswa Universita Sebelas Maret yang dikenal juga sebagai UNS. Kelompok beranggotakan 5 orang itu terdiri dari Irfat Hasibuan, Wisnu Ariyo Wibowo, Rahma Sabila, Nahdah Rahmania, dan Ravelinda Zalfa Safira. Mereka sempat menjalankan program observasi terkait pembentukan perilaku jujur pada anak tunalaras. Salah satu yang diamati ialah Ardiansyah Riski Pratama. 

Meski respon para siswa sangat beragam mulai dari yang terbuka hingga yang masih memerlukan bimbingan ekstra dari guru, suasana cair seketika hadir tatkala Ardiansyah membalas sapaan para mahasiswa lewat senyum polosnya yang tulus. 

Menghadapi tantangan terbesar berupa karakter siswa yang sulit mengontrol emosi dan cenderung tertutup, menuntut kesabaran tersendiri. Dalam praktiknya, guru kerap harus turun tangan secara langsung untuk membimbing dan mengarahkan murid-murid tersebut agar dapat mengungkapkan sesuatu secara jujur. 

"Pembelajaran sederhana yang konkret dan dilakukan secara berulang menjadi kunci. Guru dapat menggunakan simulasi dari kehidupan sehari-hari seperti cerita sederhana dan bermain peran," jelas Irfat. 

Lebih lanjut, Irfat berharap masyarakat luas dapat lebih merangkul, menghargai, serta menjauhkan stigma negatif terhadap anak difabel. Seraya menekankan bahwa kehadiran media digital dan konten edukatif sangat ampuh untuk mengikis stigma tersebut agar masyarakat paham cara memperlakukan anak-anak istimewa ini dengan tepat.

Bagi para siswa, kehadiran para relawan dan kakak pembina membawa warna tersendiri. Muhammad Melik Irfansyah, seorang anak penyandang Down Syndrome selalu bersemangat tiap kali ada kegiatan interaktif di sekolah. Namun di balik keceriaan itu, ada alur perjuangan yang mengharukan.

​Di balik senyum dan semangatnya kini, ada rekam jejak perjuangan yang tidak mudah. Sang ibu, Tuti, mengenang kembali masa-masa kelam yang pernah menghampiri perjalanan tumbuh kembang putranya. 

Dahulu, Irfan sering menjadi sasaran ejekan dan rundungan (bullying) dari teman-teman di sekitarnya. Rasa sakit itu tak hanya berupa kata-kata kasar, ada luka mendalam yang tertancap di hatinya. Kala itu, ia pernah pulang dalam keadaan menangis tersedu-sedu akibat dipukuli oleh temannya sendiri

​Namun, air mata itu tidak memadamkan binar di matanya. Beruntung, keteguhan karakter Irfan yang cenderung cuek dan pantang menyerah menjadi tameng berharga baginya. Perlahan tapi pasti, rasa percaya diri dan senyum keceriaannya mulai pulih kembali ketika ia menemukan ruang yang tepat di lingkungan inklusif SLB B YAAT. 

Di sekolah inilah ia diterima apa adanya. Dipeluk oleh kasih sayang guru serta teman-temannya. Ia didorong untuk terus berkembang.

​Kehangatan yang ia rasakan di sekolah berpadu harmonis dengan suasana di rumah. Irfan tumbuh sangat dekat dengan sang ayah. Dalam kepungan dunia modern, keduanya sering menghabiskan waktu bersama untuk mengeksplorasi beragam konten digital melalui YouTube dan TikTok. 

Hubungan yang erat dan penuh dukungan keluarga inilah yang akhirnya membentuk rasa aman dalam diri Irfan. Hingga kini ia tak lagi canggung maupun ragu untuk mengekspresikan dirinya dengan percaya diri di depan kamera. 


Kreativitas Tanpa Batas Menembus Keterbatasan

Kreativitas tanpa batas juga terpancar dari sosok Afifah Asri Nur Akmala. Di balik keterbatasan, siswi yang menyimpan cita-cita besar ingin menjadi seorang pelukis ini membuktikan bahwa imajinasi tidak butuh bahan mewah. Bahkan karung bekas bawang merah pun bisa ia sulap menjadi mahakarya busana. 

Selain tekun mengasah bakat seninya di aplikasi Canva, Afifah juga mengandalkan alat bantu dengar mandiri seharga Rp10 juta yang dibelikan oleh orang tuanya, dengan biaya operasional baterai mencapai Rp350 ribu. 

Akses mandiri ini menjadi potret betapa tingginya nilai investasi alat bantu disabilitas. Sekaligus gambaran besarnya perhatian orang tua agar anaknya mendapat hak belajar yang setara dan inklusif demi mengejar impian seninya.

Di sisi lain, fasilitas sekolah diperkuat dengan keberadaan Interactive Flat Panel (IFP) dari pemerintah, komputer chromebook, serta bantuan printer dari gereja untuk mencetak karya siswa. 

Kendati demikian, sekolah masih membutuhkan ketersediaan alat peraga khusus serta tenaga pengajar ahli di bidang IT (Information Technology ). Hal tersebut dikarenakan guru IT saat ini baru berijazah D1.

Tak hanya itu, masalah keterbatasan sarana juga menyasar ruang literasi. Muthi’ah menceritakan bahwa dahulu sekolah ini sempat memiliki perpustakaan. 

Namun, kondisinya kini jauh dari kata terawat dan tak lagi difungsikan. Terutama setelah sebagian besar koleksi bukunya rusak diterjang banjir. Kendati demikian, tekad untuk menghidupkan kembali ruang baca itu tidak pernah padam. 

"Insya Allah besok perpustakaan ini akan kita rawat lagi," tutur Muthi’ah penuh harap.


Harapan Sekolah akan Guru Ahli dan Alat Bantu Belajar Adaptif

Menatap ke depan, pihak sekolah berharap ada perhatian yang lebih fleksibel dan spesifik dari pemerintah khususnya penambahan kuota guru ahli. Serta penggunaan alat bantu belajar adaptif yang dirancang khusus untuk mengoptimalkan pemahaman siswa, bersanding dengan media pembelajaran tekstual.

Muthi’ah menegaskan bahwa pendekatan pendidikan di SLB memiliki spesialisasi tersendiri yang dirancang khusus untuk merespons kebutuhan dan potensi unik setiap peserta didik.

 "Karena murid kita ini benar-benar murid berkebutuhan khusus, jadi perlu pendekatan yang sesuai," tegasnya.

​Sinergi antara komunitas, akademisi, dan SLB B YAAT Surakarta memberi bukti nyata bahwa inklusivitas bukanlah wacana kering di atas kertas. Kehadiran fisik para relawan serta sentuhan kreativitas tanpa batas dari ruang-ruang kelas yang sederhana mengirimkan pesan lugas. 

Anak-anak difabel adalah warga masyarakat yang memiliki hak, ruang, dan peran yang setara. Pada akhirnya, keberhasilan pembelajaran berpusat pada tumbuh kembang peserta didik dan dedikasi pengajar, yang didukung oleh ruang kelas serta fasilitas yang memadai.

Muthi’ah mengingatkan pentingnya jalinan emosional dan komunikasi yang tak boleh putus antara orang tua dan anak.

​"Misal anak sedih ditanya kenapa, kalau senang ditanya kenapa. Orang tua selalu ada harus menanyakan bagaimana kondisi dia baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan teman-temannya," pungkas Muthi’ah. 

​Di SLB B YAAT Surakarta, setiap senyuman, gerakan jemari bahasa isyarat, hingga langkah kecil para siswa adalah penerang di tengah keterbatasan. Sekolah ini bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan rumah bagi asa yang terus dirawat bersama. Membuktikan bahwa dalam keterbatasan, harapan selalu menemukan jalannya untuk tumbuh.***



Editor : Wulan Eka Handayani