LPM Mayantara

LPM Mayantara

Surat Untuk Mamah

Ilustrasi cerpen "Surat Untuk Mamah" (Foto: Fitra Nur Khasanah/lpmmyantara.com)

Penulis : Fitra Nur Khasanah 

MAYANTARA- Jam beker berdengung kencang. Suaranya bergema dari balik pintu hingga ujung jendela. Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku terbangun dengan muka mengantuk dan sudut bibir yang sedikit basah oleh air liur. 

"Mah, kenapa sih pasang alarm jam segini? Ini kan hari libur!" teriakku sambil mematikan jam beker kesayanganku dengan nyawa yang masih berkeliaran entah ke mana. 

Setelah kesadaranku terkumpul sepenuhnya, aku menuruni anak tangga menuju meja makan yang telah dipenuhi masakan khas Solo. 

"Eh, Tamara, putri kecilku sudah bangun," ucap mamah sambil mematikan pengeras suara kesayangannya yang sejak tadi menemani kegiatan memasaknya di dapur. 

"Humm," jawabku kesal. 

"Ayo makan! Ini Mamah sudah masak nasi liwet dan selat Solo," 

Masakan Solo lagi, batinku. Hampir setiap hari Mamah memasakkanku masakan Solo, mulai dari sup buntel, sate kere, timlo, hingga hidangan khas lainnya. 

Maklum, mamah  sangat merindukan kota asalnya. Ia selalu menuangkan rasa rindu itu ke dalam olahan masakan. Aku dan mamah sudah lima tahun tinggal di Pekanbaru karena tugas dinas mamah. Hidup kami di kota ini terasa sangat membosankan, mungkin karena kami hanya tinggal berdua. Berbeda saat masih di Solo, ada kakek dan nenek yang selalu menemaniku jalan-jalan setiap kali aku berkunjung. 

"Mah, kapan kita pulang ke Solo?" 

Mamah menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan itu. "Ini sedang Mamah usahakan ya, sayang. Tahun depan kita pulang ke Solo." 

"Ah, tahun kemarin juga bilangnya gitu," ucapku dengan nada kesal. Aku segera beranjak dari meja makan yang terasa dingin itu menuju kamar mandi. 

Setelah mandi, aku bersiap pergi ke perpustakaan terdekat. Sesampainya di sana, aku duduk di sudut ruangan paling ujung dan membuka buku kesayanganku, Laut Bercerita. Saat asyik membaca, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.

"Hai, Tamara!" 

"Hai! Kinan, kok kamu di sini?" Ternyata itu Kinan, teman sebangkuku di SMA Negeri 1 Pekanbaru.

"Kebetulan banget aku lagi cari referensi untuk tugas kimia pekan lalu. Kamu sendiri tumben ke perpustakaan sendirian?" 

"Lagi menyegarkan pikiran nih, hehe," 

"Kamu debat sama mamahmu lagi, ya?" 

Kinan sepertinya sudah hafal raut wajahku setiap kali aku sehabis berdebat dengan Mamah. Hampir setiap hari aku bercerita tentang perdebatan kami— tentang keinginanku untuk pulang ke Solo yang tak pernah terealisasi. Entah apa yang sebenarnya membuat Mamah tak pernah mau menjejakkan kaki di Solo lagi sejak berpisah dengan ayah. 

"Kin... jujur, aku kangen banget sama Solo," 

"Ra, kamu sudah mengulang kalimat itu 99.999 kali sejak duduk sebangku sama aku, loh. Hahaha!" kelakar Kinan sambil tertawa tipis. 

"Tapi aku serius kali ini. Aku ingin sekali pulang ke Solo," 

"Kenapa kamu enggak pulang sendiri saja ke Solo kalau mamahmu susah diajak?" 

"Kin, ke Solo itu enggak cukup satu atau dua hari. Gimana cari alasannya?" 

"Eh, besok kan ada studi banding ke Solo! Kamu ikut saja, waktunya dua minggu," 

"Ide bagus tuh! Makasih ya, Kin," 

"Sama-sama, Raaa. Semoga berhasil ya rencana pulangmu ke Solo!" ucap Kinan sambil memelukku erat. Dia memang sahabat terbaikku. 

Keputusan itu akhirnya bulat. Tanpa berpikir panjang, aku mendaftarkan diri dalam program studi banding ke Solo yang diadakan oleh sekolah. Selama dua minggu, aku menyusun rencana dengan rapi, berpura-pura seolah ini hanyalah kegiatan akademik biasa.

Mamah tentu saja memberiku izin dengan senyuman hangat, lengkap dengan pelukan dan uang saku yang lebih dari cukup. Ada rasa bersalah yang mencubit dadaku saat berpamitan, tetapi rasa rinduku pada Kota Solo mengalahkan segalanya.

Sore hari di pertengahan minggu pertama studi banding, di tengah waktu luang kegiatan, aku memberanikan diri kabur sejenak dari rombongan. Dengan jantung yang berdegup kencang, aku menaiki taksi menuju rumah kakek dan nenek. Bayangan tentang kehangatan masa kecil, wangi kebun di halaman belakang, dan pelukan Nenek memenuhi kepalaku sepanjang jalan.

Namun, kenyataan yang menyambutku di depan pintu pagar tua itu sungguh di luar dugaan.

Suasana rumah terasa dingin dan mencengangkan. Di ruang tamu, kakek dan nenek memang menyambutku dengan pelukan hangat, tetapi sosok pria asing yang duduk di sofa kayu membuat napasku tertahan. Pria itu adalah ayah— seseorang yang selama lima tahun ini gambarnya berusaha kuhapus dari ingatan.

"Tamara? Kamu... kok di sini?" bisik ayah gagu, hendak melangkah mendekat.

Aku mengundurkan langkah, menolak sentuhannya. Sebelum aku sempat bertanya, Kakek menyuruhku masuk ke kamar belakang untuk beristirahat. Namun, perdebatan sengit dari ruang tengah tak sengaja terdengar jelas melalui celah pintu yang terbuka sedikit.

"Kamu harus minta maaf sama anakmu, Mas! Dan ingatkan mantan istrimu di Pekanbaru itu, dia masih punya kewajiban bantu melunasi sisa utang-utangmu!" suara kakek terdengar menekan.

"Betul," timpal Nenek dingin. "Kalau saja dulu dia tidak egois membawa Tamara pergi dan mau menutupi kasus penipuanmu, keluarga kita tidak akan menanggung malu seperti ini."

Darahku mendidih seketika. Dari balik pintu, kebenaran pahit itu terkuak tanpa ampun. Alasan mamah tak pernah mau menjejakkan kaki lagi di Solo bukan karena kesibukan dinas. Lima tahun lalu, ayah terjerat kasus penipuan besar hingga dijebloskan ke penjara. 

Yang meremukkan hati Mamah, Kakek dan Nenek justru pasang badan membela ayah habis-habisan, menyalahkan mamah atas kehancuran rumah tangga mereka, serta menuntut mamah menutupi seluruh utang ayah. 

Demi melindungiku dari kepahitan konflik ini, mamah memilih pergi jauh ke Pekanbaru, membawa seluruh luka itu seorang diri tanpa pernah menceritakan kebusukan orang-orang yang kucintai.

Air mataku menetes deras. Dada rasanya dihantam batu besar. Aku tidak bisa tinggal diam lagi.

Dengan kedua tangan gemetar, aku mendorong pintu kamar hingga melayang terbuka keras. Tiga pasang mata di ruang tengah menatapku terkejut.

"Cukup!" teriakku, suaraku bergetar hebat menahan badai emosi.

"Tamara... kamu—" nenek berdiri panik.

"Tamara mendengar semuanya, Kakek, Nenek! Tamara mendengar kebohongan kalian!" seruku seraya menatap mereka satu per satu. Pandanganku beralih tajam pada ayah yang menunduk kaku. 

"Selama lima tahun, Tamara membenci Mamah karena mengira Mamah yang jahat! Tamara mengira Mamah yang memutus hubungan kita! Tapi ternyata... kalian yang menghancurkan Mamah!"

"Tamara, kamu tidak tahu apa-apa tentang urusan orang tua—" sela kakek dengan nada keras.

"Aku tahu, Kakek!" potongku tegas, berdiri paling tegak di tengah ruangan. "Mamah tidak salah sedikit pun! Mamah bekerja banting tulang di Pekanbaru, menahan rindu pada rumahnya, memasak nasi liwet sambil menahan tangis tiap malam di dapur sepi... cuma demi melindungi aku dari kebusukan kalian! Lalu Kakek-Nenek masih tega menyalahkan Mamah atas kejahatan yang dilakukan Ayah?"

Ruang tengah mendadak hening membeku. Ayah mengepalkan tangan tanpa sanggup menatap mataku, sementara kakek dan nenek terpaku dengan wajah pucat pasi. Tidak ada satu pun dari mereka yang mampu membalas tatapan mataku.

"Mulai hari ini, jangan pernah ganggu Mamah lagi," ucapku dingin pelan namun penuh penekanan. 

"Aku yang meyakini akan berdiri paling depan membela Mamah."

Aku memutar badan dan melangkah keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi, meninggalkan ketiga orang yang terpaku dalam kebisuan. Aku teringat raut lelah mamah setiap kali memasak di Pekanbaru. Masakan Solo itu bukan sekadar rindu pada kota asalnya, melainkan pelarian atas rasa sepi dan luka bertubi-tubi yang ia tanggung sendiri.

Hari keberangkatan rombongan studi banding untuk kembali ke Pekanbaru tiba. Di stasiun, aku memeluk Kinan erat-erat.

"Ra, kamu beneran enggak ikut pulang?" tanya Kinan dengan mata berkaca-kaca seraya memegang kedua bahuku.

"Aku enggak bisa ikut pulang ke Pekanbaru sekarang, Kin. Aku harus menyelesaikan ini di Solo," ucapku mantap, meski mataku sembab. "Tolong berikan surat ini untuk Mamah, ya."

Aku memutuskan tidak naik ke atas kereta. Aku memilih bertahan di Solo untuk menata kembali segalanya.

Dua hari kemudian, di rumah kecil kami di Pekanbaru, mamah yang panik luar biasa karena aku tak kunjung pulang bersama rombongan sekolah, mendapati Kinan berdiri di depan pintu. Tanpa kata, Kinan menyerahkan sebuah amplop cokelat.

Dengan tangan gemetar, mamah membuka lipatan kertas di dalamnya:

Untuk Mamah,

Mah ... maafkan Tamara. Maaf karena selama ini Tamara selalu menuntut hal yang tidak pernah Tamara pahami kepahitannya. Maaf untuk setiap nada kesal, pintu kamar yang terbanting, dan rengekan anak kecil yang hanya tahu ingin pulang tanpa pernah peduli pada luka hatimu.

Tamara sudah tahu semuanya, Mah. Tamara tahu kenapa kita harus pergi ke Pekanbaru. Tamara tahu tentang Ayah, dan Tamara tahu bagaimana Kakek dan Nenek menyakiti hati Mamah lima tahun lalu.

Saat ini Tamara masih ada di Solo, Mah. Tamara sengaja tidak ikut pulang ke Pekanbaru karena Tamara tidak mau terus-menerus lari bersama Mamah. Tamara sudah mendatangi Kakek, Nenek, dan Ayah. Tamara menyuarakan semuanya—mewakili rasa sakit yang selama ini Mamah sembunyikan di balik senyuman dan wajan masakan Solo di dapur.

Tamara ingin menyelesaikan kesalahpahaman ini, Mah. Tamara ingin Kakek dan Nenek tahu bahwa Mamah tidak salah, dan Tamara ingin mereka sadar betapa hebatnya ibu yang membesarkanku ini.
Mah, tidak perlu lagi memasak nasi liwet sambil menahan tangis sendirian di dapur. Pulanglah ke Solo, Mah. Kali ini, tidak perlu takut lagi. Ada Tamara di sini yang siap berdiri di depan Mamah untuk menggenggam tangan Mamah.

Tamara tunggu di Solo ya, Mah. Kita tata kembali rumah kita yang sebenarnya.

Dari putri kecilmu,
Tamara

Di ruang tamu rumah Pekanbaru yang dingin itu, air mata mamah tumpah sepenuhnya. Namun kali ini, bukan lagi tangisan kesepian, melainkan rasa lega yang teramat sangat. Di ujung telepon, suara mamah terdengar bergetar tetapi penuh kehangatan, "Tunggu Mamah di stasiun ya, sayang, Mamah pulang.”


Editor: Yusuf Aminudin